Bab 25: Aku Sangat Cemburu, Terserah Kamu Bagaimana Menghadapinya
"Silakan menunggu sebentar, saya akan ambilkan formulirnya. Anda ingin minum apa?"
"Apa saja boleh."
Hua Feng mengangguk lalu beranjak pergi. Tak lama kemudian, ia kembali dengan formulir di satu tangan dan secangkir kopi di tangan lainnya. Setelah meletakkannya di depan Ning Xue, ia duduk di hadapannya dan berkata dengan senyum.
"Isi dulu sesuai contoh ini. Jika ada yang tidak dimengerti, tanyakan saja kapan pun."
Ning Xue mengangguk paham, lalu mulai mengisi formulir tersebut.
"Anda juga orang Fengtian?" tanya Hua Feng santai, karena ia bisa melihat alamat domisili di kartu identitasnya.
"Ya," jawab Ning Xue singkat sambil terus menulis.
"Masih kuliah?" tanya Hua Feng lagi. Suaranya lembut, dengan nada dan tempo yang sangat terkontrol.
"Iya, di Universitas Fengtian."
"Universitas Fengtian?" Suara Hua Feng terdengar terkejut, sekaligus ada nada gembira.
Ning Xue mendongak, melihat ekspresi Hua Feng, lalu berkedip dan bertanya, "Jadi, Kakak Tingkat?"
Hua Feng mengangguk. "Benar, saya lulusan Universitas Fengtian, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, angkatan 07, jurusan Perdagangan Internasional."
Mengetahui Ning Xue adalah adik tingkatnya, Hua Feng tampak jauh lebih santai. Ia berkelakar, "Jangan panggil saya Kakak Tingkat, Nona Ning. Anda ini pelanggan besar dengan lima juta, lho."
Mendengar dirinya diragukan lagi, Ning Xue membalas dengan tatapan jenaka, "Bagaimana kalau saya benar-benar punya lima juta?"
"Eh..." Hua Feng tertegun. Ia tak menyangka Ning Xue akan berkata begitu. Setelah berpikir sejenak, ia menjawab, "Itu tentu akan sangat luar biasa. Target kerja saya bisa langsung tercapai seketika."
Ning Xue mengernyit. Kalimat itu terdengar seperti Hua Feng tidak akan rugi sedikit pun dalam situasi apa pun. "Kalau begitu, saya benar-benar menguntungkan Anda, ya."
Setelah mengatakannya, Ning Xue kembali mengisi formulir. Hua Feng pun tertawa. "Adik tingkat, bicaramu pintar sekali."
Setelah selesai, Ning Xue membuka komputer di sampingnya untuk melihat data saham. Saat menelusuri daftar tersebut, ia menemukan nama yang familiar: Yinhe Power.
Bukan karena Ning Xue punya pengalaman bermain saham di kehidupan sebelumnya, melainkan karena ada kerabatnya yang berhasil kaya raya berkat membeli saham Yinhe Power. Setiap kali ada acara keluarga, kerabat itu selalu menyombongkan betapa tajam pengamatannya dulu.
Yinhe Power adalah saham paling fenomenal di tahun 2009. Dari harga 2,59 di awal tahun, harganya melonjak hingga 16,8—kenaikan sebesar 556 persen—sebelum akhirnya stabil di akhir November karena penghentian perdagangan untuk restrukturisasi. Saat ini, harga saham Yinhe Power baru saja menyentuh angka sepuluh lebih sedikit.
Ning Xue segera berkata kepada Hua Feng, "Tolong belikan saya saham ini. Lima juta, *all-in*." Sambil berkata demikian, ia meletakkan kartu banknya di atas meja.
"Hah?" Hua Feng terpaku, ia sempat tidak bisa bereaksi.
"Apa? Apa saya harus mengoperasikannya sendiri?" tanya Ning Xue bingung.
"Ah... tidak, tidak, saya akan segera membelikannya untuk Anda." Hua Feng benar-benar tidak menyangka wanita di depannya ini benar-benar bisa mengeluarkan lima juta dan langsung menanamkan modal besar pada satu saham.
...
Setengah jam kemudian, Hua Feng dan Ning Xue keluar dari ruang tamu. Wajah Hua Feng dipenuhi senyum yang tak bisa disembunyikan. Sebagai staf, ia mendapat komisi, meskipun tidak besar—hanya tiga per mil—tapi nilai transaksi Ning Xue sangat tinggi.
"Adik tingkat, tenang saja, saya pasti akan terus memantau pergerakan sahammu."
Ning Xue tersenyum. "Tidak perlu repot-repot, nanti kalau mau beli lagi, saya akan telepon." Ia sengaja membuka ponsel dan membuat pengingat agar tidak lupa, karena masih ada sekitar satu bulan waktu tersisa.
"Apakah kamu mau kembali ke kampus? Susah mencari taksi di sini, biar saya antar," tawar Hua Feng antusias.
Ning Xue awalnya menolak, tetapi karena pihak lawan terlalu bersikeras, ia akhirnya setuju. Mobil Hua Feng bukanlah mobil mewah, melainkan Volkswagen biasa.
Saat sampai di kampus, tepat jam makan siang. Ning Xue berterima kasih kepada Hua Feng. Begitu ia turun dari mobil, ia mendengar dua suara panggilan secara bersamaan.
"Ning Xue?"
"Xue-xue..."
Ning Xue menoleh dan melihat Gu Jianyu bersama teman sekamarnya, Liu Yong, sedang menatapnya dengan heran. Saat tiba tadi, Hua Feng turun untuk membukakan pintu mobil bagi Ning Xue, dan jelas sekali Gu Jianyu melihatnya.
Di sisi lain, berdiri sosok dengan rambut pirang yang mencolok. Saat melihat Ning Xue turun dari mobil pria lain, si rambut pirang itu hampir saja "berubah menjadi Super Saiyan".
"Chen An?" Ning Xue menoleh ke arah si rambut pirang. Belum sempat ia merasa senang, ia menyadari ada yang tidak beres. Sepertinya, si rambut pirang kesayangannya sedang cemburu.
Tanpa mempedulikan Gu Jianyu, Ning Xue segera berjalan ke arah Zhang Chen An. Gu Jianyu hanya berdiri diam memperhatikan saat Ning Xue melangkah mendekati pria berambut pirang itu, meraih tangannya, dan membisikkan sesuatu dengan lembut.
Tatapan Ning Xue saat melihat pria itu penuh dengan kelembutan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta tidak bisa disembunyikan dari tatapan mata. Dulu, Ning Xue juga sering menatapnya dengan tatapan seperti itu.
Gu Jianyu memegang dadanya, merasa ada sesuatu yang hancur di dalam sana. Begitu pula dengan kebanggaan diri yang selama ini dipupuk oleh perhatian Ning Xue.
"Aku benar-benar kehilangan dia selamanya..." Gu Jianyu sadar, ia tidak mungkin kembali ke masa lalu. Bayangan saat Ning Xue mengejar dan mencintainya berkelebat di benaknya. Sudut mata Gu Jianyu memerah.
Di sisi lain, setelah penjelasan Ning Xue, kondisi "Super Saiyan" Zhang Chen An akhirnya mereda. Tentu saja, si rambut pirang itu masih berkata dengan gaya kerennya, "Lain kali, tidak boleh naik mobil pria lain. Hanya boleh naik mobilku."
Ekspresi dingin dan keren Zhang Chen An seolah menuliskan kalimat di wajahnya: "Aku cemburu, urus sendiri."
Ning Xue belum pernah melihat Zhang Chen An seperti ini. Ia tak kuasa menahan tawa, lalu berkata, "Aku tidak mau naik mobilmu. Nanti aku akan beli mobil sendiri dan menyetirnya sendiri."
Zhang Chen An menatap Ning Xue dalam diam, lalu mengangguk serius. "Boleh, tapi kursi penumpang di samping pengemudi hanya boleh untukku."
"Hahaha... baik, baik." Melihat wajah serius Zhang Chen An yang tak terduga, Ning Xue tertawa terbahak-bahak. "Aku lapar sekali, ayo, kita makan."
Sambil memegangi perutnya yang merasa teraniaya, Ning Xue meraih tangan besar Zhang Chen An.
"Ayo, jalan." Zhang Chen An menggenggam tangan itu dengan erat.
Di bawah tatapan penasaran para mahasiswa di sekitar, mereka berdua berjalan masuk ke gerbang kampus. Angin sepoi-sepoi berhembus, cahaya matahari menyinari keduanya. Mata sang pemuda memancarkan kasih sayang yang mendalam, dan senyum sang gadis mekar layaknya bunga. Pemandangan ini tampak seperti lukisan abadi.
Sekali melangkah masuk ke dalam lukisan, sehari bermimpi kembali ke masa muda.