Bab 11: Panti Asuhan
Halaman (1/3)
Tatapan Shen Yan menyapu kegelapan.
Di ujung hidungnya tercium aroma khas seorang gadis yang melekat pada selimut—hangat dan manis.
Perhatian serta kebahagiaan yang datang begitu tiba-tiba itu membuat Shen Yan sedikit kebingungan.
Tadi malam, ia masih menahan nyeri di kakinya sambil merangkak masuk ke terowongan panjat di taman, tempat anak-anak biasa bermain, lalu tidur semalaman di sana. Ia kedinginan dan kelaparan. Luka di kakinya terasa semakin sakit setiap kali terkena hawa dingin.
Namun, Shen Yan merasa semua itu belum seberapa. Dibandingkan hari-hari yang telah dilaluinya, hidup seperti itu sudah jauh lebih bebas dan ringan.
Tetapi hari ini, ia justru tidur di atas ranjang kecil yang empuk. Tidak ada angin, tidak ada hujan, bahkan terasa sangat hangat. Seolah-olah kakinya pun tidak lagi begitu sakit.
Shen Yan merasa semua ini hanyalah mimpi indah yang ia alami sebelum meninggal.
Setelah berbaring diam selama beberapa saat, Shen Yan bangkit dari ranjang.
Meja belajar berada tepat di samping kepala ranjang. Dengan bantuan cahaya bulan, Shen Yan melihat buku tugas milik Xie Yan.
Di buku itu tertulis nama dan kelas Xie Yan.
Biasanya, ketika mengerjakan tugas, Xie Yan sudah berusaha mengubah tulisannya agar tampak seperti tulisan anak sekolah dasar. Namun, tulisan orang dewasa memang sulit diubah. Tulisan tangannya tetap rapi dan indah.
Shen Yan menatap dua kata “Xie Yan”, lalu mengulurkan tangan dan menyentuhnya. Ia bahkan menggunakan jarinya untuk menirukan tulisan itu di atas meja.
“Yan…”
——————
Keesokan harinya adalah akhir pekan, jadi Xie Yan tidak perlu pergi ke sekolah.
Yang Huiyun bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan, lalu memanggil kedua anak itu agar bangun dan makan.
Pagi itu mereka makan bakpao kukus kecil ditemani bubur encer. Sederhana, tetapi cukup untuk menggugah selera.
Melihat Shen Yan yang tampak masih mengantuk sambil menyeruput bubur dengan suara berisik, Yang Huiyun pun tertawa.
“Jangan terburu-buru. Minum pelan-pelan dengan sendok.”
Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, Shen Yan sudah meletakkan mangkuknya.
Ia menghabiskan buburnya sampai tak tersisa sedikit pun.
Kemudian ia mulai memakan bakpao kukus kecil, satu demi satu dimasukkan utuh ke dalam mulut.
Seolah-olah ia berniat mencekik dirinya sendiri sampai mati.
Xie Yan tidak tahan melihatnya. Ia menepuk lengan Shen Yan dengan keras.
“Makan pelan-pelan! Satu bakpao harus dimakan dalam tiga gigitan. Kalau tidak, aku tidak akan memberimu lagi!”
Xie Yan sudah berpengalaman mengurus anak-anak, terutama anak laki-laki yang sulit diatur. Adik laki-lakinya sendiri dibesarkan olehnya, dan cara makannya juga sama buruknya.
Benar saja, gerakan Shen Yan segera melambat. Hanya saja, ia tampak sangat enggan, meskipun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Namun, Xie Yan tetap bisa melihat keengganannya.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Setelah sarapan, Yang Huiyun kembali mencari pakaian untuk Shen Yan. Semuanya adalah pakaian lama Xie Yan, hanya saja ukurannya lebih kecil sehingga lebih pas dikenakan Shen Yan.
Sebuah baju lengan panjang berwarna abu-abu dan celana hitam. Meski sudah lama, pakaian itu dicuci dengan sangat bersih sehingga tampak seperti baru. Yang Huiyun tidak tega membuangnya dan sebelumnya berniat membawanya pulang untuk diberikan kepada kerabat di kampung halaman.
Kini, pakaian itu justru bisa digunakan.
Shen Yan masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Saat keluar, penampilannya sudah seperti orang yang sama sekali berbeda dari kemarin.
Pakaiannya nyaman dan lembut, wajahnya pun bersih serta tampak penurut.
Luka-luka di tubuhnya tertutupi, sehingga tak seorang pun akan menyangka bahwa ia adalah anak yang pernah mengalami penyiksaan.
“Yan-yan, Ibu akan membawanya ke kantor polisi untuk bertanya-tanya. Kamu tetap di rumah dan kerjakan tugasmu. Kalau ada apa-apa, telepon Ibu,” ujar Yang Huiyun sambil memberi arahan.
Xie Yan baru saja hendak mengangguk ketika ia merasa seseorang menariknya.
Ia menoleh dan melihat tangan kecil Shen Yan sedang mencengkeram ujung bajunya. Anak itu menatapnya tanpa ekspresi, tetapi sepasang matanya seolah-olah berkata: Kau tidak ikut?
Melihat Xie Yan tidak menjawab, Shen Yan perlahan menundukkan pandangan. Bulu matanya yang panjang menimbulkan bayangan di wajahnya, sementara giginya menggigit bibir.
Baiklah.
Xie Yan menyerah.
Ia bersumpah, si tokoh antagonis kecil itu pasti baru saja sedang bermanja kepadanya.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di kantor polisi.
Polisi yang sedang bertugas adalah orang yang datang ke rumah pada hari ketika Yang Huiyun membuat laporan. Begitu melihat Xie Yan dan Shen Yan, ia langsung mengingat mereka.
Seharusnya Shen Yan dikirim ke panti asuhan. Ketika kantor polisi hendak mencari berkasnya, mereka baru menyadari bahwa anak itu bahkan tidak memiliki catatan pendaftaran sekolah.
Dengan kata lain, ia belum pernah bersekolah dasar.
Selama beberapa hari terakhir, kantor polisi terus mengurus prosedur untuk memasukkannya ke panti asuhan. Namun, tiba-tiba mereka mendapati bahwa Shen Yan telah melarikan diri dari rumah sakit.
Anak itu membuat para polisi di kantor tersebut panik setengah mati. Mereka sudah mencarinya selama berhari-hari, tetapi tidak juga menemukannya.
Untunglah orang baik hati yang sama kembali membawa anak itu kemari. Para polisi sangat berterima kasih.
Melihat Shen Yan sudah bersih dan wajahnya putih serta menggemaskan, polisi muda itu tak kuasa menahan diri untuk berbincang dengan Yang Huiyun.
“Kak, anak ini kelihatannya begitu penurut. Saya lihat Anda juga orang yang baik. Mengapa tidak mempertimbangkan untuk mengadopsinya?”
Bagaimanapun, di daerah itu hanya ada satu panti asuhan. Terus terang, kondisi di sana juga biasa-biasa saja. Anak yang pergi ke tempat itu tentu tidak akan hidup dalam kemewahan.
Yang Huiyun tersenyum getir, lalu menatap Xie Yan.
“Saya sendiri masih harus mengurus seorang putri. Sungguh, saya sudah tidak sanggup membesarkan anak lagi.”
Polisi muda itu mengangguk.
“Ah, baiklah. Anda juga tidak mudah.”
Setelah mengantarkan Shen Yan ke tempat ini, urusan selanjutnya tidak lagi ada hubungannya dengan mereka.
Kantor polisi akan mengutus seseorang untuk mengantar Shen Yan ke panti asuhan. Di sanalah ia akan tinggal selama beberapa tahun ke depan.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Polisi wanita yang lembut itu mengambil tangan Shen Yan dari genggaman Xie Yan.
“Adik kecil, terima kasih, ya. Sekarang kamu bisa pulang bersama ibumu.”
Mendengar itu, Shen Yan menoleh dan memandang Xie Yan.
Tatapan tersebut membuat perasaan Xie Yan menjadi agak rumit.
Sistem: “Wah, wah, wah. Kenapa? Tidak rela berpisah dengannya?”
Xie Yan: “Bisakah nada bicaramu tidak menyebalkan seperti itu? Rasanya aku ingin memukulmu.”
Sistem: “Memangnya bukan begitu? Kemarin kamu membawanya pulang, itu sudah di luar alur cerita, dan aku tidak mengatakan apa-apa. Sekarang, setelah mengantarnya pergi, kamu malah tidak rela.”
Xie Yan terdiam sejenak.
“Sebenarnya bukan tidak rela. Aku hanya merasa dia seperti seekor kucing liar.”
Seperti ketika seseorang sedang berjalan di pinggir jalan dan bertemu seekor kucing yang malang. Selama ia mengeraskan hati dan terus berjalan tanpa menghiraukannya, tidak akan terjadi apa-apa.
Namun, begitu hatinya melunak—memberinya makan sekali, menolongnya sekali—setelah melihat anak kucing itu kembali menderita, ia tidak akan mampu mengeraskan hati lagi.
Shen Yan seperti anak kucing itu, sedangkan Xie Yan adalah orang yang berhati lembut.
Namun, ia tidak punya pilihan selain mengeraskan hati. Semua itu adalah takdir Shen Yan.
Kantor polisi bekerja dengan cukup cepat. Sore itu juga, Shen Yan sudah diantar ke panti asuhan.
Kepala panti asuhan adalah seorang perempuan berusia lebih dari empat puluh tahun. Ia berpakaian sederhana, wajahnya dihiasi senyum, dan tampak sangat ramah.
Meskipun sebelumnya ia sudah mengetahui latar belakang anak itu, polisi wanita yang mengantar Shen Yan tetap menjelaskan semuanya sekali lagi kepada sang kepala panti tanpa merasa bosan.
Sementara kedua orang dewasa itu berbicara, Shen Yan berdiri di tempatnya dan diam-diam mengamati keadaan di sekeliling.
Panti asuhan itu tampaknya tidak terlalu besar. Setelah melewati gerbang besi, terdapat sebuah pohon besar. Di sisi lain, ada beberapa fasilitas permainan seperti palang tunggal dan palang sejajar yang rendah.
Bangunan di hadapan mereka berupa rumah datar yang rendah, hanya terdiri dari dua lantai.
Shen Yan mendongak ke lantai dua dan melihat wajah-wajah kecil yang penuh rasa ingin tahu di balik kaca jendela.
“Apakah dia anak baru yang diceritakan Bibi Kepala Panti beberapa hari lalu?”
“Benar. Kudengar ibunya mengidap gangguan jiwa lalu melompat dari gedung. Dia pasti juga punya gangguan jiwa!”
“Dia anak gila kecil!”
Sebelum Shen Yan bahkan tinggal di panti asuhan itu, anak-anak di sana sudah mulai mengucilkannya.
Kebencian anak-anak sering kali tidak membutuhkan alasan.
Inilah takdir Shen Yan.
Halaman (3/3)