Bab 042 Rekan Satu Tim
Setelah kemenangan diraih, para anggota tim s6 tampak berseri-seri. Setengah jam lagi pertandingan berikutnya akan dimulai, jadi semua orang harus segera menyesuaikan kondisi mereka.
Melihat semua orang kelelahan, Wu Zi bertanya dengan penuh perhatian, “Kalian haus tidak? Biar aku belikan minuman, ya?” Semua sudah terbiasa dengan kelembutan dan perhatian “Istri Zhe”, jadi mereka dengan tenang mulai memesan satu per satu.
“Makasih, Istri Zhe, aku mau cola!” ujar Liu Siyu sambil tersenyum.
“Istri Zhe, aku mau kopi, apa saja boleh!” Chen Ye tak mau kalah.
Ma Hailong sedikit lebih sopan, “Aku... aku air mineral saja cukup.”
Han Meng berpikir sejenak, “Hmm... ada teh oolong tanpa gula nggak? Atau minuman lain yang tanpa gula juga oke.”
Wu Zi mengingat pesanan mereka satu per satu, mengangguk dan berkata, “Baik, aku pergi dulu ya, sebentar lagi balik.”
Su Zhe buru-buru berkata, “Minuman sebanyak itu mana bisa kamu bawa semua sendirian, aku temani saja, ya.”
Wu Zi tersenyum mendengar itu, lalu berkata lembut, “Memang cuma Zhe Zhe-ku yang paling tahu perhatian sama orang.”
Semua langsung bersorak di samping mereka.
“Si kelinci imut benar-benar perhatian!”
“Kelinci imut benar-benar pacar panutan!”
“Kelinci imut memang luar biasa! Pantas saja bisa dapat cewek secantik Istri Zhe!”
Su Zhe menoleh menatap mereka tajam, “Kelinci imut apanya! Aku bukan kelinci imut!”
ID sialan ini, sang Dewa Zhe yang gagah perkasa nyaris kena mental karenanya.
Keluar dari aula, Wu Zi dan Su Zhe berjalan beriringan di kampus.
“Entah lawan di pertandingan berikutnya sekuat apa, aku masih agak gugup,” kata Wu Zi sambil meletakkan kedua tangannya ke belakang dan melangkah ringan.
Su Zhe tersenyum tenang, “Nggak usah gugup, main saja seperti biasa, yang penting jangan sampai menyesal.”
Saat itu, Su Zhe tiba-tiba melihat seorang gadis berjongkok di bawah lampu jalan di depan mereka. Rambutnya pendek, tubuhnya kurus, tampak agak familiar.
“Eh, bukankah itu...” gumam Su Zhe pelan. Ia mengenali gadis itu sebagai teman sekamar Wu Zi, Hao Meng.
Saat itu Hao Meng diam-diam berjongkok di bawah lampu jalan, kepalanya tertunduk di atas lutut. Sosoknya tampak begitu kesepian, seperti anak kecil yang kehilangan rumah.
Jika didengar baik-baik, terdengar suara isakan pelan dari bawah lampu jalan.
“Meng kenapa menangis?” tanya Wu Zi pelan, hatinya terasa pedih. Meski karena masalah pendaftaran mereka sudah lama tak bicara, namun bagaimanapun mereka adalah teman sekamar. Melihat Hao Meng sendirian dan murung seperti itu, Wu Zi pun merasa tidak enak hati.
“Kenapa dia tidak bersama Zhu Hao dan Zhang Xingyue? Apa mereka bertengkar?” Su Zhe menebak, dan sejenak kemudian ia mengerti. Di pertandingan sebelumnya, tim Hao Yue kalah telak. Dengan sifat Zhu Hao yang pemarah, pasti ia meledak. Selain pacarnya Zhang Xingyue, dua anggota lain di tim itu punya peringkat lebih tinggi dari Zhu Hao. Jika Zhu Hao marah, pasti pelampiasannya ke Hao Meng.
“Sepertinya Zhu Hao menjadikannya pelampiasan,” kata Su Zhe tak berdaya.
Mendengar ini, wajah Wu Zi langsung berubah marah.
“Bagaimana bisa Zhu Hao begitu!” Setelah berkata begitu, ia berjalan cepat ke arah Hao Meng.
“Meng!”
Hao Meng seperti tersentak dari lamunan, lalu menoleh dan melihat Wu Zi.
“Wu Zi...” Hao Meng menangis tersedu-sedu, matanya sudah bengkak. Ia menatap Wu Zi dengan gemetar, menggigit bibir, “Maaf, aku seharusnya tidak menendangmu keluar dari tim bersama Zhu Hao dan Xingyue dulu. Aku benar-benar menyesal, sungguh...”
Mendengar permintaan maaf Hao Meng yang tulus, Wu Zi langsung berjongkok dan memeluknya erat.
“Dasar bodoh, sudah berapa lama berlalu, kenapa masih diingat? Sudahlah, aku sudah memaafkanmu, lihat saja, aku sekarang sudah punya tim baru. Jangan merasa bersalah lagi, ya.”
Wu Zi berkata lembut, lalu mengangkat wajah Hao Meng dan bertanya, “Meng, kenapa kamu sendirian di sini menangis? Zhu Hao marah lagi sama kamu, ya?”
Hao Meng mengangguk pelan, lalu berkata lirih, “Wu Zi, aku benar-benar benci game ini, aku seharusnya nggak ikut turnamen e-sports. Aku menyesal sudah daftar... Aku nggak mau main lagi, aku... aku memang nggak cocok main game ini!”
Mendengar itu, hati Wu Zi terasa getir. Dulu saat mereka bertiga satu kamar, bermain bersama, banyak sekali kenangan indah. Siapa sangka kini Hao Meng hanya menyisakan kebencian pada game ini.
“Kamu pasti jarang pakai Zhuang Zhou, kan? Paling banyak sepuluh kali,” tiba-tiba Su Zhe yang sedari tadi berdiri di samping mereka membuka suara.
Hao Meng tertegun, lalu mengangguk, “Iya, aku baru tiga kali memakainya...”
“Pantas saja,” Su Zhe tersenyum, “Meng, posisi andalanmu itu hutan, kamu sangat jago pakai Lanling Wang. Aku masih ingat waktu kita main tim, kamu sangat tepat memilih waktu mencuri Baron. Kesadaran dan skill-mu sebenarnya sudah setara Diamond.”
“B-benarkah?” Hao Meng mengangkat kepala menatap Su Zhe, tak percaya. Kalau orang lain yang bilang, ia mungkin acuh saja. Tapi ini keluar dari Su Zhe, sang Raja Kehormatan dengan teknik luar biasa, Hao Meng tentu sangat menghargainya.
Bagaikan seorang penyanyi amatir tiba-tiba dipuji Jay Chou dengan “Wah, bagus juga,” rasanya tak bisa dibandingkan dengan pujian orang biasa.
Su Zhe mengangguk serius, “Tentu saja benar, buat apa aku bohong?”
Sekejap saja, mata Hao Meng kembali bersinar penuh harapan. Ia membenci game ini karena kekalahan telak di pertandingan pembuka tadi.
Su Zhe melanjutkan, “Kamu jago di hutan, tapi dipaksa Zhu Hao main support, bahkan harus pakai Zhuang Zhou yang bukan hero andalanmu. Itu sebabnya performamu buruk. Kamu kira posisi support itu gampang? Kamu kira Zhuang Zhou itu mudah? Tidak semudah itu. Main support butuh pemahaman strategi dan kerja sama tim yang tinggi. Untuk jadi support andal, butuh ribuan jam latihan. Zhuang Zhou sendiri gampang dipelajari tapi sulit dikuasai. Apakah kamu sudah bisa benar-benar menguasai waktu pasifnya aktif? Apakah kamu bisa dalam waktu singkat memaksimalkan kombo skill keduanya? Tentu saja belum, karena baru tiga kali saja kamu memainkannya.”
Mendengar ini, Hao Meng baru sadar.
Ternyata bukan dirinya yang tak cocok bermain game ini, melainkan ia terlalu meremehkan posisi support dan hero Zhuang Zhou.
“Jadi dirimu yang sekarang bukanlah dirimu yang sesungguhnya, melainkan korban kompromi pada Zhu Hao. Dirimu yang sejati adalah Lanling Wang, sang jungler, bukan Zhuang Zhou, bukan support,” ujar Su Zhe serius, “Selain itu, kamu juga bikin satu kesalahan lagi.”
“Apa itu?” tanya Hao Meng.
“Kamu salah pilih teman setim,” ucap Su Zhe dengan nada berat, “Teman sejati tidak akan meninggalkan rekan-rekannya, teman sejati tidak akan melimpahkan kesalahan pada orang lain. Teman sejati itu berjuang bersama, suka dan duka dijalani bersama, bukan malah besar kepala saat menang dan mencari kambing hitam saat kalah!”
Mata Hao Meng berkaca-kaca, kata-kata Su Zhe benar-benar menyentuh hatinya. Setiap kata, setiap kalimat, menembus hingga ke dalam hati.
Wu Zi pun memeluk Hao Meng dengan lembut, berkata, “Sudah, jangan nangis lagi, dasar anak bodoh. Baru juga kalah satu pertandingan! Nanti biar Zhe Zheku yang ajari kamu, biar kamu naik peringkat sampai jadi Raja!”
Hao Meng mengusap air matanya, mengangguk pelan.
“Makasih, Wu Zi, aku akan selalu mendukung tim s6 kalian.”
Wu Zi tersenyum manis, “Nah, begitu dong.”
Kemudian Hao Meng menoleh ke Su Zhe dengan serius, “Terima kasih, kamu benar-benar patut dihormati, baik skill maupun karaktermu.”
Su Zhe jadi agak malu dipuji begitu, ia mengibas tangan, “Aku cuma bicara apa adanya.”
Namun saat itu Hao Meng menambahkan sesuatu yang membuat Su Zhe nyaris muntah darah.
“Nggak, serius, makasih banget, Kelinci Imut Dewa!”
“Kelinci Imut... Dewa?” Seketika rasa simpatinya pada Hao Meng lenyap, Su Zhe ingin sekali menjitak kepala anak bandel ini.
“Kelinci Imut apanya, aku nggak mau dipanggil begitu!”
“Ehem! Itu... ayo kita beli minuman, ya,” Wu Zi buru-buru mengingatkan.
Su Zhe hanya bisa mengangguk, lalu mereka berpamitan pada Hao Meng, “Kami beli minuman dulu, nanti ketemu lagi di pertandingan kedua.”
“Ya! S6 semangat!” seru Hao Meng, mengepalkan tinjunya.