Bab 23: Kau sedang mencoba membunuh suamimu sendiri
"Kamu hanya berpandangan sempit. Camkan kata-kataku, masa depan Xu Fan sangat cerah," ucap Cang Ming dengan nada serius.
Saat itu, Cang Ming melihat Xiao Jing sedang duduk di sofa di sampingnya. Wajah Xiao Jing tampak datar, matanya menatap tajam ke arah Ji Huiyan. Dia sudah paham situasinya; Ji Huiyan hanya meremehkan latar belakang Xu Fan. Jika saja Xu Fan berasal dari keluarga terpandang, tentu keadaannya tidak akan seperti ini.
"Xiao Jing, pergilah ke kamar tamu untuk beristirahat. Feng, siapkan kamar untuk Xiao Jing," perintah Cang Ming kepada pengasuh bernama Feng di sampingnya.
Feng mengangguk pelan, lalu membawa Xiao Jing menuju kamar tamu. Cang Ming dan Ji Huiyan tidak berlama-lama lagi di sana. Mereka sudah tahu jawaban Cang Wanyou, jadi mereka memutuskan untuk langsung pulang.
Di kamar Cang Wanyou.
"Harum sekali, sungguh lembut," gumam Xu Fan sambil memejamkan mata, menghirup aroma di ruangan itu dalam-dalam, lidahnya sesekali menyapu bibirnya sendiri. Dia tidak pernah punya kesempatan masuk ke kamar Cang Wanyou sebelumnya, dan suasana di dalamnya benar-benar memberikan sensasi yang berbeda.
"Apa yang kau lakukan? Ekspresi apa itu?" tanya Cang Wanyou dengan nada tegas saat melihat wajah Xu Fan.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa kamar perempuan dan laki-laki sangat berbeda. Kamarmu wangi sekali," jawab Xu Fan dengan wajah serius. "Istriku, ucapanmu malam ini membuatku sangat terharu. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu, aku pasti akan menjadi orang yang membuatmu bangga."
"Aku harap kau bisa membuktikannya. Tadi malam kakek juga sudah bicara, jika kau tidak bisa meningkatkan kemampuanmu, mustahil bagimu untuk melawan orang-orang itu. Kau harus berkembang dan menjadi cukup kuat," tegas Cang Wanyou.
"Pasti. Aku tidak akan membiarkan orang yang mencelakai ayahku lolos begitu saja," sahut Xu Fan dengan penuh tekad.
Setelah itu, Cang Wanyou mengambil baju tidur dan pergi berganti pakaian. Xu Fan melangkah ke tepi tempat tidur dan langsung merebahkan diri. Kasurnya sangat empuk, jauh lebih nyaman daripada kamar yang biasa ia tempati. Xu Fan berguling-guling beberapa kali sambil menghirup aroma ruangan itu dalam-dalam.
Sekitar lima menit kemudian, Cang Wanyou keluar dari kamar mandi dengan baju tidurnya. "Apa yang kau lakukan?" Keningnya berkerut melihat posisi Xu Fan.
Mendengar suara itu, Xu Fan segera duduk tegak. Cang Wanyou mengenakan baju tidur satin hitam dengan renda, belahan dada yang rendah memperlihatkan sebagian kulitnya, dan kaki jenjangnya yang mulus terekspos jelas. Xu Fan menelan ludah dengan susah payah.
"Turun dari sana! Aku mengizinkanmu tinggal di kamark sudah sangat baik, tapi kau tidak boleh tidur di atas kasur. Tidurlah di lantai!" perintah Cang Wanyou tegas.
"Apa? Tidur di lantai?" protes Xu Fan. "Istriku, lantai ini sangat dingin dan keras. Kalau aku tidur di sini, pinggangku bisa patah besok pagi. Biarkan aku tidur di kasur, aku janji hanya akan tidur di sisi ini dan tidak akan bergeser sedikit pun," pinta Xu Fan sambil menyatukan kedua tangannya.
"Tidak mungkin. Aku membiarkanmu naik ke sini hanya supaya bisa berbohong pada ibuku bahwa kita sudah benar-benar menjadi suami istri. Jika tidak, kau tetap harus tidur di kamar tamu lantai bawah. Tidur di lantai sudah merupakan kesempatan besar bagimu," jawab Cang Wanyou tanpa memberi celah.
Xu Fan hanya bisa menghela napas pasrah. Cang Wanyou kemudian mengambil selimut dan bantal dari lemari dan melemparkannya ke atas tempat tidur. "Siapkan tempat tidurmu sendiri di lantai. Besok pagi, simpan kembali ke lemari itu, di dalamnya masih kosong," katanya.
"Baiklah," jawab Xu Fan lesu.
Setelah menggelar tempat tidurnya, Xu Fan duduk di lantai sambil memandangi Cang Wanyou yang berdiri di dekatnya. Karena gaun tidur Cang Wanyou cukup pendek, posisi duduk Xu Fan membuatnya bisa melihat ke arah kaki jenjang istrinya. Melihat itu, Cang Wanyou segera naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut.
Xu Fan menghela napas kecewa. Dia bangkit pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan, wajah, dan kakinya. Saat keluar, dia melihat Cang Wanyou sudah membelakanginya tanpa memegang ponsel. Dia mengira istrinya sudah tertidur, jadi dia pun berbaring di lantai.
Namun, Xu Fan tidak bisa memejamkan mata. Sepuluh menit berlalu, hingga pukul dua dini hari, dia masih terjaga. Mendengar napas Cang Wanyou yang teratur, Xu Fan mencoba naik ke tempat tidur dengan sangat pelan agar tidak membangunkannya. Beruntung, Cang Wanyou tidak bergerak.
Saat Xu Fan menyingkap selimut, tiba-tiba Cang Wanyou berbalik menghadapnya. Xu Fan ketakutan dan segera melompat turun, takut kalau-kalau istrinya terbangun. Untungnya, Cang Wanyou hanya berbalik dalam tidurnya.
Xu Fan duduk tegak memandangi Cang Wanyou yang kini menghadap ke arahnya dengan tangan terlipat, memperlihatkan belahan dadanya yang menggoda. Xu Fan kembali menelan ludah dan mencoba naik lagi. Dengan hati-hati, ia mengulurkan tangan ke arah tubuh Cang Wanyou.
Tiba-tiba, "Cetek! Cetek!"
"Aaaargh!" Xu Fan menjerit kesakitan dan jatuh ke lantai sambil kejang-kejang. Beberapa menit kemudian, saat rasa sakit itu mereda, dia melihat Cang Wanyou sudah duduk tegak memegang tongkat kejut listrik.
"Kau mau membunuh suamimu sendiri?" tanya Xu Fan dengan lengan yang masih gemetar.
"Xu Fan, aku sarankan kau jaga tanganmu. Jika kau berani melakukan itu lagi, aku pastikan hidupmu tidak akan tenang," ancam Cang Wanyou dengan tatapan tajam.
"Baik, baik, baik! Aku akan tidur di lantai, puas?" Xu Fan segera menarik selimutnya di lantai. Rasa sakit dari sengatan listrik itu masih terasa, dan dia tidak ingin berurusan dengan istrinya lagi.
Keesokan paginya, Xu Fan terbangun lebih awal. Dia melihat ke arah kasur, namun Cang Wanyou sudah tidak ada. Pasti dia sudah turun ke bawah. Xu Fan merapikan tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi.
Di pagi hari, tubuhnya bereaksi secara alami. Ditambah ingatan akan sosok Cang Wanyou tadi malam, ia merasa sangat tersiksa. Sambil menahan gejolak gairahnya, ia berjalan menuju kamar mandi. Namun, saat membuka pintu, ia mendapati Cang Wanyou sedang mandi di dalam. Begitu melihat kondisi Xu Fan yang tidak bisa disembunyikan, Cang Wanyou berteriak histeris.