Pada abad kedua puluh satu, Gu Ping'an adalah seorang ahli investigasi kriminal yang selalu terjebak dalam persaingan dan tekanan pekerjaan. Namun, tiba-tiba ia terbangun di tahun 1990, menempati tubu
Hujan musim semi yang turun itu sangat berharga bagi para petani; mereka dengan celana digulung tinggi sama sekali tak peduli dengan tetes air yang jatuh di wajah dan tubuh mereka, berjalan berkelompok sambil bercanda tanpa memandang pantangan, menuju pulang. Gerimis yang lembut itu membuat dua rumah tua di pinggir jalan tampak seperti lukisan cat minyak, meskipun para petani yang sibuk mengais rejeki dari tanah jelas tak punya waktu untuk mengagumi keindahan semacam itu.
Begitu mereka melewati rumah-rumah itu, suara mereka pun mengecil. Ada yang cukup berani mengintip ke dalam melalui jendela yang tertutup, tapi langsung ditarik pergi oleh temannya yang lebih penakut, "Itu kan kantor polisi, ngapain lihat-lihat."
"Aku cuma mau lihat atapnya bocor atau tidak!"
Yang lain, lebih berani lagi, berseru, "Ah, kau cuma mau lihat gadis baru itu, kan!"
Yang lainnya tertawa pelan, sementara yang ditarik pergi tadi menoleh ke rumah itu, dan nyalinya langsung ciut. Ia berbisik, "Dia itu polisi, jangan asal bicara!"
Suara dari luar itu terdengar jelas di telinga Gu Ping'an. Sekilas ia melihat ke luar jendela, dan tanpa sadar langsung mencatat ciri-ciri wajah mereka. Ia bahkan tahu yang berani itu bernama Li Gui, yang menariknya adalah sepupunya, dan yang paling keras suaranya bernama Li Shuiquan, yang katanya punya hubungan tak jelas dengan janda dari tim dua, sampai-sampai mak comblang enggan masuk ke rumahnya.
Gu Ping'an sendiri bukan penduduk asli sini, dan ia tahu semua itu bukan karena menebak,